Minggu, 18 April 2010

PROFIL AL ASY'ARIYAH

Categories:

PPTQ Al-Asy'ariyyah ;
Rabu, 11 Maret 2009

PPTQ Al- Asyariyyah, satu-satunya lembaga pendidikan di Kota Wonosobo Asri yang fokus pada pendalaman ilmu Al-Qur'an namun juga tetap mengikuti perkembangan zaman dengan menyediakan pendidikan formal mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi.



Berbagai spesifikasi kajian ilmu agama bisa secara bebas dipilih oleh kalangan santri sebagai wujud kebebasan dalam memilih sekaligus pembelajaran yang selalu ditanamkan oleh Abah Faqih selaku pengasuh.

Sejarah Berdiri
A. Periode Pertama; K. Muntaha bin Nida' Muhammad (1832-1859)
Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro ditangkap atas tipu daya Belanda di Magelang termasuk para pengawalnya juga dilucuti. Diantara prajurit pengawalnya yang sempat meloloskan diri dari kejaran Belanda adalah Raden Hadiwijaya dengan nama samaran KH. Muntaha bin Nida' Muhammad. Pada tahun 1832 KH. Muntaha tiba di Desa Kalibeber yang waktu itu sebagai ibu kota Kawedanan Garung. Beliau diterima oleh Mbah Glondong Jogomenggolo, beliau mendirikan Masjid dan Padepokan Santri di Dusun Karangsari, Ngebrak, Kalibeber, dipinggir Sungai Prupuk yang sekarang dijadikan makam keluarga Kyai.

Ditempat ini beliau mengajarkan agama Islam kepada anak-anak dan masyarakat sekitar. Ilmu pokok yang diajarkan adalah baca tulis Al-Qur'an, Tauhid, dan Fiqih. Dengan penuh ketekunan, keuletan dan kesabaran, secara berangsur-angsur masyaraat Kalibeber dan sekitarnya memeluk agama Islam, atas kesadaran mereka sendiri. Mereka meninggalkan adat-istiadat buruknya seperti berjudi, manyabung ayam, minum khomr, dll.

Karena Padepokan Santri lama kelamaan tidak mampu menampung arus santri dan terkena banjir sungai Prupuk maka kegiatan pesantren dipindahkan ketempat yang sekarang dinamai Kauman, Kalibeber. Sedangkan yang tinggal di Padepokan baru yang tidak mau secara sukarela memeluk Islam, atas kemauan sendiri banyak yang meninggalakan kampung itu. Daerah selatan pesantren yang semula dihuni oleh Etnis China akhirnya ditinggalkan penghuninya, dan nama Gang Pecinan sampai sekarang masih dilestarikan. K. Muntaha wafat pada tahun 1860, setelah 26 tahun memimpin pesantren. Beliau digantikan oleh putranya KH. Abdurrochim bin KH. Muntaha.

B. Periode ke-Dua; KH. Abdurrochim (1860-1916)
Mulai tahun 1860, KH. Abdurrochim bin KH. Mutaha menerima estafet tugas mulia memimpin pesantren dari ayahnya. Beliau adalah seorang Kyai yang ahli dalam bidang pertanian dan tidak suka berpolitik praktis. Beliau juga ahli Tasawuf. Sejak mudanya beliau telah dipersiapkan untuk meneruskan perjuangan menyiarkan Islam dan memimpin pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Kyai Abdullah bin KH. Mustahal Jetis, Parakan, Temanggung, bahkan beliau dijadikan menantunya. Dibawah asuhan KH. Abdurrochim pesantren semakin maju. Satu hal yang sangat menarik dari Al-Maghfurllah KH. Abdurrochim adalah keahliannya dalam menulis Al-Qur'an. Sehingga ketika beliau pergi berhaji selama dalam perjalanan beliau menulis Qur'an dengan tangan Beliau sendiri sampai ketika beliau tiba di Kampung halaman penulisan Al-Qur'an tersebut dapat selesai sempurna 30 juz. Peristiwa bersejarah inilah yang nantinya menjadi sumber inspirasi bagi cucu Beliau yaitu Al-Maghfurllah KH. Muntaha Alh untuk membuat Al-Qur'an raksasa, yang menjadi Al-Qur'an terbesar di dunia. Dalam memimpin pesantren beliau masih melestarikan sistem dan materi pendidikan peninggalan ayahandanya. Bertepatan pada tanggal 3 Syawal 1337 H atau 1916 Masehi, KH. Abdurrochim dipanggil yang Maha Kuasa dan dimakamkan dibekas komplek Pondok Karangsari, Ngebrak. Sepeninggalan Beliau, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya KH. Asy'ari bin KH. Abdurrochim.

C. Periode ke-tiga; KH. Asy'ari bin KH. Abdurrochim (1917-1949)
KH. Asy'ari mempunyai 2 saudara yaitu; KH. Marzuki dan Nyai Hj. Maemunnah (istri KH. Syuchaimi dari Malaysia). Beliau mempunyai wiridan rutin membaca Dalailul Khoirot kemanapun beliau pergi selalu membawa kitab tersebut. Beliau mempunya dua istri yaitu Nyai Hj. Safinah (Ibu kandung Al-Maghfurllah KH.Muntaha) dan Nyai Hj. Supi'ah (Ibu kandung KH. Mustahal Asy'ari).

KH. Asy'ari pernah nyantri di Krapyak Yogyakarta dan ketika itu Beliau diajak oleh KH. Munawwir untuk mengikuti (ndere'ake) menuntut ilmu di Mekkah selama + 17 tahun. Pada saat nyantri di Mekkah inilah Beliau rutin membaca Al-Qur'an, bahkan setiap hari bisa khatam. selain itu Beliau juga pernah nyantri di Sumolangu, Kebumen, dan Termas Pacitan. Beliau meneruskan kepemimpinan Ayahandanya. Pada masa itu Indonesia telah melahirkan gerakan-gerakan Nasional, baik yang berdasarkan agama maupun kebangsaan. Pada tahun-tahun terakhir kehidupan beliau, Indoneia sedang gigih-gigihnya menentang kembali penjajahan Belanda oleh karena itu pesantren mengalami masa surut sebagian santrinya ikut dalam geriliya melawan Penjajah.

Pada aksi Polisionil kedua (Agresi Militer Belanda II) itu Belanda menyerang wilayah Wonosobo bahkan sampai ke Desa Dero Ngisor + 5 Km dari Kalibeber kesebalah barat. Pondok Pesantren pun tak luput dari amukan Belanda bahkan Al-Qur'an tulisan tangan Al-Maghfurllah KH. Abdurrochim ikut dibakar. Sementara itu KH. Asy'ari yang sudah lanjut usia terpaksa mengungsi ke Dero Duwur + 8 Km dari Kalibeber. Ternyata Belanda tidak berani meneruskan pengejaran Ulama' ini sampai ketempat pengungsian. Dalam pada itu beliau sedang sakit keras dan kemudian wafat dalam pengungsian dan dimakamkan disana pada tanggal 13 Dzulhijah 1371 H/ 1949 M.

Menurut satu sumber yang dapat dipercaya (saksi sejarah yang masih hidup) termasuk dari satu keistimewaan Beliau adalah suatu ketika masjid dan pondok pesantren di bom oleh Belanda namun berkat doa beliau bom tersebut tidak meledak, malah berubah menjadi Singkong (Bodin- Bahasa Kalibeber red). Satu hal yang perlu dicatat bahwa wafatnya KH. Asy'ari teleh menyiapkan putra-putranya untuk kaderisasi kepemimpinan. Seluruh putranya dikirim ke berbagai pondok pesantren satu diantara putranya ialah KH. Muntaha Alh bin KH. Asy'ari

D. Periode ke-empat
1. KH. Muntaha Al-Hafidz bin KH. Asy'ari
KH. Muntaha Alh atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Munt adalah seorang Ulama' legendaries, dan Kharismatik. Beliau dijuluki sang Maestro Al-Qur'an. Dibawah kepemimpinan Beliau inilah Al-Asy'ariyyah menemui kemajuan yang sangat pesat, dengan pertambahan santri yang menjadi ribuan dan juga pertambahan lembaga-lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Al-Asy'ariyyah. Dan dengan satu karya yang sangat fenomenal yaitu : Al-Qur'an Akbar (Al-Qur'an terbesar di Dunia) yang kini disimpan di bait Al-Qur'an Taman Mini Indonesia indah (TMII).

Beliau adalah sosok ulama' yang juga pandai berpolitik, semasa masih muda beliau pernah menjadi anggota konstituante dari fraksi NU, tetapi beliau bukanlah politisi. Garis Politik beliau adalah mengutamakan kemaslahatan umat dari pada sekedar kepentingan/ambizi pribadi. Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan, Beliau pernah ikut pertempuran di Palagan Ambarawa sebagai Komandan BMT (Barisan Muslim Temanggung). Mbah Munt adalah seorang Ulama' yang serius dan kreatif, sederhana, pemurah, dan seorang pribadi yang berakhlakul karimah. Orang-orang menyebutnya berhati Segara (laut), hatinya bagai samudera luas dan seperti air, setinggi apapun tempatnya air mengalir kearah dan tempat yang lebih rendah.

Dalam perjuangan memasyarakatkan Al-Qur'an, beliau mendirikan Yayasan Himpunan Penghafal Al-Qur'an dan dan pengajian Al-Qur'an. (Jama'atul Qur'an wa Diraasat Al-Qur'an atau YJHQ) yang menghimpun para hafidz-hafidzah se-Kabupaten Wonosobo. Beliau sering menasihati murid-muridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an minimal seminggu sekali. Beliau juga penyusun Tafsir Maudlu'i yang kini berjudul Tafsir Al-Muntaha.

Beliau adalah hamba Allah dalam arti yang sebenarnya. Dalam zuhud dan taqwa beliau telah sampai pada maqam ma'rifat, keyakinan hatinya begitu tinggi sehingga seluruh hidupnya penuh dengan ketaatan kepada Allah SWT. Jiwa dan makna ma'rifat beliau berbeda sekali dari sikap hidup para zahid yang menjauhi dunia. Sebaliknya Irfan atau daya ma'rifat Mbah Muntaha adalah irfan yang positif dan dinamis, yakni penuh perhatian dan pemahaman terhadap masalah-masalah di sekitarnya. Banyak wali yang hidup zuhud dan menjauhi dunia. Tetapi Beliau adalah wali yang Zahid dan membangun dunia.

Sejak pondok pesantren dipimpin oleh Al-Maghfurllah KH. Muntaha Alh, maka berbagai langkah inovativ dan pengembangan mulai dilakukan diberbagai aspek. Sehingga jika sekarang kita melihat perkembangan pesantren ini tida lain adalah karena jasa dan perjuangan beliau. Langkah pengembangan tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Pengembangan itu antara lain dalam masa-masa awalnya, pesantren pesantren yang lebih mnegkhususkan pada pengkajian dan hafalan Al-Qur'an masih tetap dipertahankan bahkan lebih dikembangkan lagi. Sehingga dalam waktu tidak lama jumlah santripun bertambah banyak.

2. KH. Mustahal Asy'ari bin KH. Asy'ari
Apabila kita membicarakan KH. Muntaha, Alh maka tidak akan berpisah dari tokoh pendampingnya yaitu KH. Mustahal Asy'ari (Adik Beliau). Beliau dilahirkan pada tahun 1926 + 14 tahun lebih muda dari KH. Muntaha. Beliau mengawali menuntut ilmu dibawah bimbingan langsung dari ke-dua orang tuanya sendiri. Kemudian beliau mesantren pertama kali kepada Syech KH. Muntaha Parakan Temanggung pada tahun 1946 selama 1 tahun. Kemudian beliau meneruskan nyantri di Lasem dari tahun 1947 sampai dengan 1951.

Setelah itu beliau memperdalam ilmu di Pondok Pesantren Al- Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan langsung KH. Munawwir, Alh selama 3 tahun. Selama mesantren beliau "Tirakat" dengan tidak pernah makan nasi selama 13 tahun. Setelah dirasa cukup beliau pulang kerumah untuk membantu dakwah memperjuangkan syari'at islam di Kampung halamannya, Dengan mengawali mendirikan TK dan MI Ma'arif. Pada tahun 1958 beliau melaksanakan sunah Nabi SAW yaitu melangsungkan pernikhan dengan Nyai Tisfiyyah dari Kertijayan, Buaran, Pekalongan. Dari pernikahan ini dikaruniai 6 Orang putra yaitu : Mustaqimah, Masudan Asy'ari, Atho'illah Asy'ari, Mukarromah, Muhammad Muhlis dan Affan Mastur.

Beliau pernah menjabat sebagai Ketua NU, Ketua Fatayat, Ketua Muslimat, Dan Ketua GP Anshor Cabang Wonosobo. Disamping itu beliau adalah sebagai pegawai KUA. Beliau juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Wonosobo pada tahun 1961-1966. hal yang sangat patut di teladani oleh para santri adalah ke-istiqomahan beliau, salah satunya ialah dalam hal sholat 5 waktu. Sampai sekrang beliau masih aktif menjadi imam harian di Masjid Baiturrochim.

E. Periode ke-Lima (sekarang) KH. Achmad Faqih Muntaha
Beliau adalah putra sulung KH.Muntaha Alh dari istri yang bernama Nyai Hj Maiyan jariyah, lahir di Kalibeber pada tanggal 3 Maret 1955. beliau akarb dipanggil dengan Abah Faqih. Beliau mempunyai 5 putra dan 1 putri yaitu ;
1. H. Abdurrohman Al-Asy'ari, Alh, S.H.I
2. H. Khairullah Al-Mujtaba, Alh
3. Siti Marliyah
4. Nuruzzaman
5. Fadlurrohman Al-Faqih
6. Ahmad Isbat Caesar

Putra-putri beliau sudah ada yang menyelesaikan pendidikan baik formal maupun non formal, baik S1 maupun tahfidzul Qur'an dan juga pondok pesantren. Bahkan putra beliau yang pertama dan kedua adalah alumnus Yaman "Ribat ta'lim Khadzral maut" dibawah asuhan Habib Salim As-Satiri

1. Riwayat Pendidikan
Beliau menjalani masa kanak-kanak dibawah asuhan langsung dari Almaghfurlah KH. Muntaha Alh. Selain itu beliau juga sekolah formal di SD Kalibeber, sedangkan SMP di Wonosobo yang kemudian melanjutkan di STM juga di Wonosobo setelah selesai sekolah formal bilau dikirim untuk belajar di pesantren seperti kebayakan gus-gus yang lain. Pada tahun 1973 beliau nyantri di Pondok pesantren termas Pacitan dibawah asuhan KH. Chabib Dimyati, sampai tahun 1978. kemudian beliau pindah ke Krapyak yang pada waktu itu diasuh oleh beliau KH. Ali Maksum (juga termasuk salah satu teman seperjuangan Simbah Muntaha Alh) selama 1 tahun. Selanjutnya beliau nyantri lagi di Buaran Pekalongan kepada Al-Mukarrom KH. Syafi'I yang juga terkenal sebagai salah satu teman seperjuangan Al-Maghfurllah Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz. Setelah itu pada tahun 1980 beliau pulang ke Kalibeber yang dilanjutkan dengan nyantri di kaliwiro kepada seorang kiyai yang terkenal dengan panggilan Mbah Dimyati. Belum genap satu tahun beliau kemudian melaksanakan akad nikah dengan salah seorang santri kalibeber yang bernama Shofiah binti KH Abdul Qodir Cilongok Banyumas, kendati beliau telah melangsungkan pernikahan, namun bukan berarti akhir dalam menuntut ilmu, karena beliau masih tetap nyantri dengan Mbah dimyati di Kaliwiro selama kurang lebih satu tahun. Ketika di kaliwiro inilah beliau mendalami kitab-kitab yang besar antaralain : Shoheh Bukhori, Shoheh Muslim, Ihya' Ulummuddin, Tafsir Al-Munir, dan lain-lain. Kemudian beliau mukim membantu perjuangan Ayahanda beliau yaitu Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz(Alm). Selama masa nyantri tersebut beliau mempunyai hobi yang sangat unik yang sama dengan hobinya Gus Dur yaitu Ziarah Qubur, beliau juga terkenal sebagai santri yang mempunyai dedikasi dan disiplin yang tinggi dan selalu mentaati peraturan (Qonun) pondok pesantren yang ada walaupun beliau adalah putra seorang Ulama besar yang kharismatik.

2. Perjuangan Pendidikan
Setelah pulang dari pesantren (Mukim pada tahun 1980) beliau aktif membantu mengajar di Pondok pesantren milik Ayahandanya dan ikut perkecimpung dalam masyarakat. Waktu itu santri di kalibeber baru sekitar 50 orang putra dan putri dengan prioritas Tahfidzul Qur'an (menghafal A-Qur'an) dan menggunakan sistem salafy. Pertama kali beliau mengajar pada santrinya yaitu kitab "Burdah" yang bertempat di masjid Baiturrochim. Selain mengajar pada santri beliau juga mengajar Diniyah ba'da dzuhur untuk orang kampung yang waktu itu bertempat di MI Ma'arif. Adapun kitab-kitab yang pernah beliau khatamkan antaralain adalah ; Taqrib, Bidayatul Hidayah, Sulamuttaufik, Safinah, dll sedangkan untuk ilmu nahwu diampu oleh teman beliau yaitu Bp H. Quraisyin.

Disamping mengajar, beliau juga ikut aktif dalam mendirikan lembaga-lembaga formal antara lain : SMP, SMA, SMK Takhassus Al-Qur'an dan IIQ (Sekarang UNSIQ). Beliau juga meneruskan cita-cita ayahanda beliau yang belum terealisir diantaranya; SD Takhassus Al-Qur'an, Darul Aitam, Menara Masjid Baiturrochim, dan gedung baru Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah. Beliau juga mendirikan kelas jauh diantaranya adalah : SMA Takhassus Al-Qur'an di Kepil, SMP + SMA Takhassus Al-Qur'an di Ndero duwur plus Pondok pesantren tanpa pemungutan biaya, Pondok Pesantren + SMA dan SMP Takhassus Al-Qur'an di Kalimantan barat, SMP TAQ Di Majalengka, di Tumiyang Purwokerto, di Buntu Banyumas, serta di Baran Gunung Ambarawa, dan masih banyak lagi. Satu cita-cita beliau yang belum terrealisasi adalah menjadikan Kalibeber sebagai "Semacam Vatikan" di Indonesia. Dimana nanti setiap fatwa dari kalibeber akan di patuhi oleh semua pemeluk islam diseantereo Nusantara.

3. Perjuangan Organisasi
Dalam bidang organisasi beliau aktif di Mabarot. Dan selanjutnya aktif di Tanfidziyah Ranting kalibeber, sekretaris MWC Mojotengah. Tercatat mulai Tahun 1996 sampai sekarang beliau aktif sebagai Mustasyar NU cabang Wonosobo. Dulunya Beliau juga aktif dalam partai politik antara lain P3, Golkar dan PKB. Namun demi kemaslahatan umat mulai tahun 2004 hingga sekarang beliau netral. Selain itu beliau juga menjadi salah satu sesepuh di Kalibeber bahkan diWonosobo beliau termasuk salah satu Kiyai yang paling disegani. Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal PDF Print
Selasa, 03 Maret 2009
Image

Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal didirikan oleh KH. Manshur salah seorang putra KH. Imam Basyari (salah seorang kiyai di Pon. Pes. Al Fatah Mangunsari Tulungagung). Keberadaan Pondok ini berawal dari amanat KH. Basyari terhadap putra-putranya yang menginginkan agar tanah babatan hutan di Blitar, ditempati oleh salah seorang putranya. Satu-satunya putra beliau yang bersedia menempati tanah tersebut adalah Manshur yang waktu itu baru pulang menuntut ilmu beberapa tahun di Mekah.

Pemuda Manshur kemudian menikah dengan seorang gadis putri dari H. Abdullah bernama Maimunah. Dari perkawinan tersebut menghasilkan keturunan beberapa anak dan cucu yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari pengurus Yayasan Pondok Pesantren al Kamal dimasa akan datang. Untuk itu untuk memperjelasnya, dibawah ini dijelaskan silsilah keluarga sebagai berikut:

KH. Manshur dikaruniai enam (6) orang anak, namun tiga (3) diantaranya meninggal dunia diwaktu kecil, dan yang tiga hidup yang kesemuanya perempuan, yaitu :
1. SITI MALIKAH menikah dengan H. SHOLEH Bertempat tinggal 1 Km sebelah barat KH. Manshur. Pada akhirnya mendirikan Pondok Pesantren dengan nama MAMBAUL HUDA di Dusun Manggar Desa Kunir.
2. SITI MUTINAH menikah dengan H. THOBIB, dan dikaruniai tuju (7) anak yaitu;
1. Hj. Sumbulatin 4. H. Syaiful Habib 7. Imam Asy’ari
2. Hj. Miatu Habbah 5. Syamsul Ma’rif
3. Hj. Siti Masyithoh 6. Hj. Siti Maswah
3.SITI MUNAWAROH menikah dengan KH. THOHIR WIJAYA dan dikaruniai enam (6) anak yaitu;
1. HJ. Astutik Hidayati 3. Hj. Asmawati 5. Hj. Reni Rahmawati
2. Hj. Nur Saida 4. H. Jauhar Wardani 6. Hj. Rina Laila Wati

Tahun 1918 M. yang kemudian dijadikan peringatan bedirinya Pesantren ini, Manshur berangkat menuju Desa Kunir Blitar. Di desa tersebut, mendirikan sebuah langgar dan kemudian mendirikan majelis ta’lim atau pengajian yang santri-santrinya berdatangan dari desa-desa sekitarnya.

Pengajian yang diselanggarakan KH. Manshur berkembang terus dan memerlukan beberapa tempat untuk menginap para santri-santrinya. Kala itu pondok ini bernama Pondok Pesantren Kunir. Berdasarkan prasasti yang terdapat di masjid Jami’ Desa Kunir, Pondok tersebut berdiri pada tahun 1940. Selain mengajar santri-santrinya, KH. Manshur juga menjadi imam Masjid Jami’ Kecamatan Srengat dan ikut aktif berjuang melawan penjajah.

Setelah beliau wafat, Pondok Pesantren Ini diasuh para menantunya, KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib. Pada masa inilah terdapat perubahan nama Pondok Pesantren Kunir diubah menjadi Pondok Pesantren Al Kamal, hasill istikharah pengasuh saat itu yakni KH. Thohir Wijaya, dengan perubahan dari sistem sorogan dan bandungan menjadi klasikal. Sistem pendidikan Pondok Pesantren berubah dari salafiyah murni berubah menjadi Terpadu yakni perpaduan antara salafiyah (klasik) dan Ashriyah (modern). Mulai saat itu, wajah dan dinamika pondok pesantren menjadi dinamis, berkembang sampai sekarang dengan sistem pendidikan yang lebih relevan dan akomodatif terhadap perkembangan zaman disertai tantangan modernisasinya.

Masyarakat Sekitar
Penduduk desa Kunir pada tahun 2005 M. sebanyak 4.567 orang yang mayoritas beragama Islam. Faham keagamaan masyarakat sangat majmuk (plural), baik dilihat dari perspektif kegiatan sosial keagamaannya maupun amaliyah ibadah masyarakatnya, sebagian masyarakat termasuk dalam kelompok Nahdhatul Ulama’, sebagian kecil Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Persis, dan Muhammadiyah. Dari sisi social cultur masyarakat adalah berbudaya jawa dengan mata pencaharian sebagai peternak, petani, pedagang, tukang dan pengrajin serta pegawai negeri Sipil (PNS). Dalam berpolitik masyarakat Desa Kunir, berdasarkan hasil pemilu 2004, berafiliasi dengan berbagai partai Politik baik Golkar, PDI-P, PKB, PBB, PKS, dan partai Demokrat.

Organisasi Kelembagaan PP. Terpadu Al Kamal
Tentang profil organisasi Pondok pesantren al Kamal Kunir Wonodadi Blitar, pesantren ini menerapkan pola pengelolaan manajerial dengan mengembangkan sistem kepemimpinan semi demokrasi.

Jika dijelaskan secara periodik, pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal telah mengalami tiga masa kepemimpinan. Masa kepemimpinan petama adalah pendiri KH. Manshur pada tahu 1918 M, pada masa ini Pondok Pesantren dikelola secara mutlak oleh pendirinya dengan dibantu oleh beberapa orang asatidz (para guru yang mumpuni dalam bidang agama, terutama mereka-mereka yang telah tamat dari berbagai Pondok Pesantren sekitar Blitar).

Masa kepemimpinan generasi kedua. pada masa ini penyelenggaraan dan pengelolaan Pondok Pesantren ditangani oleh para menantu dari KH. Manshur yakni KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib. Yang kemudian membentuk sebuah organisasi yayasan sebagai pengembangan dari para anggota keluarga yang memang berkompeten dalam memperjuangkan dunia pendidikan Agama Islam dan kepesantrenan. Ini terinspirasikan pada tahun 1977, ketika Bapak KH. Ahmad Thohir Wijaya diangkat menjadi anggota DPR / MPR RI, sehingga membuka akses (Network) pesantren Al Kamal di lembaga birokrasi pemerintahan. Yang pada akhirnya Al Kamal berkembang baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Sejak itu al Kamal sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan pesantren yang didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru tanah air.

Perkembangan berikutnya tahun 1981 jajaran pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal semakin kokoh dengan hadirnya Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah (menantu pertama dari KH. Ahmad Thohir Wijaya), yang secara langsung menangani Pendidikan baik formal maupun non formal, khususnya menangani kajian kitab-kitab kuning dan pendalaman bahasa Arab baik pasif maupun aktif untuk sehari-hari. Bersamaan dengan itu (Th. 1981) organisasi penyelenggara Pondok Pesantren Al Kamal secara resmi didirikan dengan bentuk yayasan yang didirikan dan prakarsai oleh KH. Ahmad Thohir Wijaya (Suami dari Hj. Siti Munawaroh, Putra ketiga dari KH Manshur). Saat itu Ketua I dijabat oleh Bapak KH. Zen Masrur, BA, Ketua II. Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah, Ketua III oleh Bapak Masyhudi Yusuf, BA, Bapak H. Syaiful Habib, SH. M.Hum sebagai sekretaris dan Ibu Hj. Astutik Hidayati, BA. sebagai bendahara Yayasan Pondok Pesantren al Kamal.

Nampaknya perkembangan al Kamal tidak berhenti disitu, Tahun 1986, Bapak KH. Ahmad Thohir wijaya yang pada waktu itu sebagai Anggota DPR/MPR RI melebarkan sayap perjuangannya bersama-sama Kabinet Pembangunan Indonesia mendirikan cabang di Kebon Jeruk Jakarta dengan nama yang sama, yaitu Pondok Pesantren Al Kamal.

Selanjutnya pada tahun 1989 kepengurusan yayasan diubah dengan masuknya Drs. H.M. Sunandari Jauhari dan H. Ibrahim Indragiri di jajaran Ketua Yayasan dan Johar wardani, ST sebagai bendahara.

Demikianlah perjuangan Bapak KH. Thohir Wijaya dalam membesarkan dan menciptakan beberapa pondasi Pondok Pesantren Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar yang pada akhirnya pada tahun 1999, karena menderita penyakit yang sangat parah akhirnya beliau menghadap Allah Swt. dan dimakamkan di maqbaroh keluarga besar Pondok Pesantren Al Kamal.

Masa kepemimpinan ketiga adalah dikendalikan oleh generasi ketiga dari Bani Manshur. Pada tahun inilah kebersamaan, solidaritas pengurus yayasan mencapai puncak kejayaannya. Kepemimpinan yayasan tidak lagi bersifat personal Individual tetapi lebih mengutamakan pada semangat kolektivitas . Ada pemilihan dan pembagian kerja diantara cucu-cucu dari KH. Manshur sebagai antisipasi dalam menyongsong era modernisasi, dengan Job discription sebagai berikut : Drs. KH. Mahmud Hamzah, sebagai koordinator Pondok Pesantren Terpadu al Kamal (PPTA) dan pendidikan formal, KH. Zen masrur, BA sebagai koordinator keta’miran dan majlis ta’lim, Mashudi Yusuf, BA sebagai koordinator hubungan kemasyarakatan, Drs. HM. Sunandari sebagai koordinator bidang birokrasi dan kepemerintahan. Sedangkan H. Syaiful Habib, SH. M. Hum bertugas sebagai koordinator ketrampilan dan koperasi, H. Johar Wardani, ST. sebagai bendahara.

Kondisi inipun tidak berlangsung lama dikarenakan kesibukan dan domisili dari beberapa pengurus Yayasan Pondok Pesantren al Kamal yang jauh dari pesantren, sehingga sulit untuk melakukan koordinasi diantara sebagian pengurus, disamping karena H. Saiful Habib dan Masyhudi Yusuf, keduanya dipanggil oleh Allah SWT.

Pada periode selanjutnya tinggal ada dua ikon di Al kamal, yakni KH. Zen Masrur, BA dan Drs. KH. Mahmud Hamzah. Kemudian pada bulan Agustus 2008 ketika pengasuh KH. Mahmud Hamzah wafat, estafet kepengasuhan diteruskan oleh Ust. Dr. Asmawi mahfudz, M. Ag. Figur-figur diataslah yang sampai sekarang masih eksis melanjutkan perjuangan untuk mengembangkan Pondok Pesantren yang telah didirikan oleh pendahulunya dengan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan penjelasan diatas.

Al Kamal sekarang merupakan respon ditengah hangatnya suasana pertemuan, kalau bukan pertempuran dua sistem pendidikan tradisional (salafi) Islam dan sistem pendidikan modern (‘ashriyah). Pondok ini dibangun ditengah pergumulan masyarakat abangan Kunir Wonodadi Blitar (meminjam teori Clifford Geertz) yang membutuhkan keistiqomahan, keteladanan, kesabaran, kesederhanan dan semangat yang tinggi. Sehingga kalau kita melihat Al Kamal sekarang, nilai-nilai luhur para pendiri sudah terintegrasikan dalam sistem pendidikan pondok pesantren. Idealisme, jiwa, dan falsafah hidup pesantren bapak pengasuh yaitu Dr. Asmawi Mahfudz, M.Ag dan KH. Zen Masrur, BA menjadi ruh Pondok Pesantren Tapi penanaman ruh tersebut dilakukan secara efektif, efesien dengan menggunakan sistem dan metode pendidikan pesantren pada umumnya yang mengedepankan penalaran dan berpikir kritis. Cara ini pada berikutnya dapat melahirkan dan mengembangkan etos-etos tertentu yang membuat anak didik menjadi lebih dinamis, kritis dan kreatif. Inilah yang akan diuraikan dalam karakteristik pendidikan Pesantren dibawah ini.

Pendidikan dan Ciri Khas
Mengikuti perkenbangan jaman, Pondok Pesantren Al Kamal dirancang secara terpadu, dalam arti pendidikan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren ini mensinergikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Sehingga alumni santri–khususnya yang mukim –Pondok Pesantren ini memiliki kemampuan atau pengetahuan agama yang relatif sama dalam jenjang yang sama walaupun jenis sekolah yang diikuti berbeda. Karena para santri yang mukim diwajibkan mengikuti pendidikan keagamaan, yakni madrasah diniyah.

A. Pendidikan Kepesantrenan
Pendidikan Kepesantrenan yang diselenggarakan sudah menggunakan system clasikal atau madrasah diniyah dengan kurikulum yang disusun sendiri. Jenjang pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah, dasar dan lanjutan yakni:

1. TK Al Qur’an dan Madrasah Awaliyah (MDA). Santri yang belajar di tingakat TK benar-benar berusia dibawah tuju (7) tahun dan semuanya mukim.

2. Madrasah Tsanawiyah. santri yang belajar pada tingkatan ini adalah mereka-mereka yang duduk di MTs atau SMP. Ditingkatan ini mereka di berikan beberapa materi diantarannya: Al Qur’an, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Tauhid, Nahwu, Shorof, Akhlaq, kuliyah umum, bimbingan baca kitab, bimbingan sholawat Diba’ dan bimbingan berbahasa. Dengan perincian kitab-kitab yang digunakan adalah sebagai berikut ; Kelas I : Aqidah Al Awam, Sifa’ul Jinan, Akhlaq Lilbanin, Awamil Jurjani, Imla’, dan Khot serta mabadi al Fiqhiyah I, Kelas II : Aqidah Al Islamiyah, Jurumiyah,Qowa’idul I’lal, Akhlaqul Lilbanin II, Mabadi al Fiqhiyah II & III dan Al Amtsilah al Tasrifiyah, Kelas III : Taisirul Kholaq, Jawahir al Kalamiyah, Al Amriti, al Kaelani dan fiqh al Wadih, dan pelajaran - pelajaran keagamaan pesantren lainnya.

3. Madrasah Aliyah. Yaitu tingkatan ini diisi oleh para santri yang duduk ditingkatan Madrasah Aliyah atau SMK. Adapun materi yang diberikan di madrasah Aliyah adalah : Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Tauhid, Nahwu, Shorof, Akhlaq, kuliyah umum, bimbingan baca kitab, bimbingan sholawat Diba’ dan bimbingan berbahasa dengan perincian kitab yang digunakan sebagai berikut: Kelas I : al Sanusiyah, Al Fiyah Ibnu Malik I, Fat’hul Qorib,at Tibyan I dan Mustholahul Hadits, Kelas II : Qomi’ At Tughyan, Alfiyah Ibnu Malik II, Qowa’idul I’rob, at Thibyan II, dan Mustholahul Hadits II, Kelas III : Tafsir Jalalain, Tafsir Al Fatihah, Riyadus Sholihin, Qowa’idullughoh, dan as Sulam,

4. Madrasah Aliyah Keagamaan.Yakni program/kelas khusus, program ini diperuntukkan bagi santri yang belajar di MAK. Selain tersebut diatas ditambah dengan kitab ; al Mu’in al Mubin, Kifayatul Akhyar, Fiqih Al Sunah, Subulus Salam, Nailu al Authar, Tafsir Al Maroghi, Ilmu Ushul Fiqih dan Mabahis fi Ulumil Qur’an. Kekhususn tersebut dimaksudkan sebagai pendalaman materi pendidikan agama yang diberikan di madrasah dengan pemberian materi pendidikan agama dalam bentuk kitab kuning. Metode belajar di kelas ini lebih menekankan kemandirian kepada kajian beberapa kitab kuning dan penguasaan bahasa baik Arab maupun Inggris. Mengenai materi yang diajarkan sama dengan tingkatan madrasah aliyah yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Fiqih, hadits, Akhalaq, Tauhid, Tasawuf, dan lain-lain. Hanya saja metode belajar di kelas ini lebih menekankan kemandirian kepada kajian beberapa kitab kuning.

5. Pengajian Kitab Tafsir. Institusi ini di asuh langsung oleh bapak pengasuh yakni Drs. KH. Mahmud Hamzah, Kemudian setelah wafat diteruskan oleh putranya Dr. Asmawi Mahfudz, M. Ag, diperuntukkan bagi orang-orang tua warga masyarakat Desa Kunir dan sekitarnya beserta para Asatidz Pondok Pesantren al Kamal yang menginginkan memperdalam kajian kitab tafsirnya. Hanya saja waktu pelaksanaanya, dengan pertimbangan waktu dan kesibukan para anggotanya satu minggu sekali. Untuk materinya dikhususkan kepada Kitab tafsirnya imam Jalaludin al Suyuti dan Jalaludin al Mahali yaitu tafsir Jalalain, yang memang sudah termasyhur dikonsumsi oleh pesantren-pesantren di Indonesia dan beberapa perguruan tinggi di dunia Islam.

6. Pengajian Alumni Pondok Pesantren. Sejak berdirinya sampai tahun 2004/2005 kemarin, Pondok Pesantren al Kamal sudah mengeluarkan tamatan kurang lebih 3056 santri dari berbagai tingkatan. Baik Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah. Mereka terkoordinasikan dalam organisasi alumni Pondok Pesantren Al Kamal. Kegiatan yang dilaksanakan oleh alumni adalah pengajian rutin ahad wage (satu bulan sekali) yang dibimbing langsung oleh bapak pengasuh. Dengan tujuan supaya para alumni secara continue masih dapat bersilaturahmi kepada almamaternya disamping mereka masih bisa memperdalam kajian kitab kuningnya. Materi yang dikaji biasannya adalah kitab-kitab tasawuf dan akhlaq, dikarenakan dengan materi ini bapak pengasuh masih dapat memberikan beberapa nasehat dan motivasi kepada para alumni dalam menghadapi kehidupan yang sangat sulit ini.

B. Pendidikan Formal
Pendidikan sekolah yang diselenggarakan di lingkungan Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N), dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Selain itu diselenggarakan pula pendidikan sekolah umum yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam bidang ekonomi SMEA.

C. Kegiatan Ekstra Kurikuler dan Ketrampilan
Kegiatan ekstra kurikuler di Pondok Pesantren dibedakan dengan kegiatan ketrampilan. Ekstra kurikuler dimaksudkan sebagai tahap pengenalan, sedangkan ketrampilan lebih menekankan kepada profesionalisme. Kegiatan ekstra kurikuler yang diselenggarakan meliputi : Bahasa Arab & Inggris yang sifatnya wajib untuk kelas I MD, al Qur’an (membaca bi al nadhor, khotmil qur’an diakhir tahun untuk kelas III dan kursus ilmu tajwid), bimbingan membaca kitab dan praktek sistem bandongan pada bulan Romadhon, muhadhoroh 4 bahasa (Arab, Inggris, Indonesia dan Jawa), latihan kepemimpinan, tahlil, keorganisasian diba’, dan seni baca al Qur’an, olahraga (senam pagi, jogging, sepak bola dan badminton), pramuka dan drum band.

Kegiatan ketrampilan yang diselenggarakan berbentuk kursus-kursus dan bersertifikat tingkat nasional. Dalam penyelenggaraannya Pondok Pesantren bekerjasama dengan departemen tenaga kerja dan departemen pendidikan nasional. Jenis kursus yang diselenggarakan ialah; mengetik, elektronika, sekretaris, menejemen usaha, bahasa Arab dan Inggris, menjahit, montir, peternakan, perikanan, akutansi dan komputer.

Santri, Kyai, dan Ustadz/Guru
Jumlah santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal sebanyak 2.661 anak, yang terdiri dari 985 anak laki-laki dan 1.776 anak perempuan. Mereka secara formal belajar di TK (85 anak), MI (325 orang), MTs (1.450 anak), SLTP (232 orang), SMK (30 anak) serta MA dan MAK (458 anak) tidak semua santri tinggal di Pondok, melainkan dilaju dari rumah masing-masing. Jumlah mereka hampir separohnya (30 %), sedangkan asal daerahnya sebagian besar (70%) berasal dari luar daerah kabupaten Blitar, baik propinsi jawa Timur, propinsi-propinsi di pulau jawa atau luar jawa.

Santri sebanyak itu diasuh dan dibimbing dalam belajarnya oleh dua orang kyai yaitu KH. Zen Masrur, BA dan Drs. KH mahmud Hamzah, mulai bulan September tahun 2008 setelah wafatnya KH. Mahmud Hamzah, pimpinan pesantren beralih kepada anak menantu pertamanya Yaitu Ust. Dr. Asmawi Mahfudz, M.Ag, bersama KH. Zen Masrur, BA. Yang di bantu 170 orang tenaga edukatif (ustadz/ustadzah/guru) dan 150 orang tenaga administrasi (pengurus).

Ustadz/guru 13 orang SLTA/MA, 20 orang sarjana muda/diploma III, 109 sarjana S1, seorang sarjana S2 dan 7 orang Pondok Pesantren dan pegawai 3 orang SLTA, 11 orang sarjana muda/Diploma III dan 8 orang sarjana S1. Sedangkan status kepegawaian mereka (selain kyai dan badal) adalah 71 orang PNS Departemen Agama, 15 orang PNS Departemen Pendidikan, 32 orang pegawai tetap yayasan dan 31 orang pegawai honorer.

Sarana dan Prasarana
Fasilitas untuk kegiatan belajar mengajar dan administrasi yang dimiliki Pondok Pesantren ini adalah 75 ruang belajar/mengaji, 3 ruang laboratorium, 8 ruang administrasi, 3 ruang pimpinan Pondok, 8 ruang pimpinan sekolah, 8 ruang guru/ustadz, 3 ruang perpustakaan, 1 ruang pertemuan/aula, 18 ruang asrama putra, 26 ruang asrama putri, 2 buah masjid/musholla, 26 unit kamar mandi/WC, 6 unit rumah pengasuh, 4 ruang ketrampilan, 1 bidang lapangan olahraga, 9 unit peralatan olahraga, 2 ruang kesenian, 2 unit peralatan kesenian dan 5 ruang BP3.

Sumber Dana
Untuk pembiayaan kegiatan belajar mengajar administrasi pondok, sebagian besar (90% diperoleh dari SPP santri. Untuk itu pesantren sebesar ini menuntut partisipasi dari semua elemen masyarakat, baik pemerintah atau elemen masyarakat lainnya. Karena tanpa ditunjang oleh partisipasi masyarakat lainnya sulit bagi al Kamal untuk mengembangkan diri dengan lebih baik, dikarenakan tuntutan dan tantangan sistem pendidikan modern saat ini, tidak hanya mengutamakan basic pesantren tetapi juga sistem pendidikan berbasis masyarakat.

Progam Pengembangan
1. Mendirikan Jami’ah dan Ma’had ‘Aly. Pondok Pesantren Al Kamal sudah mempunyai pendidikan lanjutan yang memadai, disamping basic sumber daya manusia yang memadai untuk mendirikan sebuah pendidikan tinggi, untuk itu tahun 2005 dijadikan moment untuk mendirikan perguruan Tinggi (al Jami’ah) dan merintis sebuah madrasah diniyah yang dapat mengakomodasi beberapa tamatan Al Kamal agar dapat berlanjut kependidikan pesantren yang lebih tinggi dengan institusi Ma’had ‘Aly.

2. Pengembangan Pondok Pesantren
Progam pengembangan Pondok Pesantren yang dilaksanakan pada tahun 2005/2006 meliputii fisik dan non fisik. Pengembangan fisik yang dilakukan adalah; a). penyelesaian bangunan serambi mushola, merehab(memperbaiki) bangunan asrama santri, menyelesaikan bangunan lokal kelas Madrasah Diniyah al Kamal, membangun asrama putri yang dari tahun ke tahun nampaknya sudah tidak memenuhi kapasitas, membangun asrama TK al Qur’an.

3. Pengembangan Masyarakat
Pengembangan ekonomi masyarakat sekitar diupayakan oleh koperasi Pondok Pesantren (Kopontren Al Ittihad) bekerjasama dengan pihak terkait, yaitu; menanam pohon jati emas bekerjasama dengan pemda setempat, membuka usaha agribisnis pertanian, mengupayakan peningkatan kesejahteraan petani dan bekerjasama dengan pengusaha dalam berbagai bidang yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Blitar, 02 Maret 2009 M

Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal
maspeypah
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Read more: http://www.maspeypah.co.cc/2010/02/cara-membuat-share-this-post.html#ixzz0qxQPNgtN

Poskan Komentar